Ceritaku Part 2 : Keracunan Buah Rasa Kacang
by pexels.com

Ceritaku Part 2 : Keracunan Buah Rasa Kacang

Saudara Teman Datang Dari Jauh

by pexels.com

sore ini cukup terik, tidak seperti sore pada biasanya yang memancarkan sinar kehangatan, biasanya sinar ini sudah lelah karena pada siang hari membantu para petani menguningkan padi, mungkin kali ini sang pencipta sedang memberikan energi berlebih hingga tetap kuat sampai sore hari.

Memasang muka penuh kesal, aku segera menarik tangan temanku “kak hadi, ayo kita pulang saja..!” dengan segera diapun bangkit dan mengiyakan kemauanku, dia adalah teman yang sudah ku anggap kakakku sendiri.

Sejak kecil hingga waktu itu umurku enam tahun, teman bermainku hanyalah dia, meski umurnya dua tahun lebih tua dariku, tapi dia selalu bermain bersamaku, sedangkan kakak kandungku tinggal di pulau yang berbeda, tinggal bersama nenek sejak umur lima tahun.

Kalah banyak pada saat main kelereng membuat aku marah sekali, segeraku pulang dengan kak hadi menunggangi sepeda jengki warna hitam yang selalu menemani kami pergi kemanapun.

Memecah lamunanku “ngga, besok saudaraku mau kerumahku loh” , “saudara yang mana kak..?” sergapku karena tak biasa kak hadi menceritakan saudaranya yang mau berkunjung.

Setelah dijelaskan panjang lebar, ternyata yang akan berkunjung adalah sepupunya yang pernah tinggal di Irian Jaya, pantesan dia sedikit antusias menceritakan saudaranya yang akan datang besok, akupun turut antusias, karena tidak pernah melihat orang yang datang dari bagian paling timur Indonesia.

Sesampainya dirumah, aku langsung tiduran untuk menghilangkan setres, karena habis kalah besar main kelereng, tapi yang selalu terngiang dalam pikiran ini “seperti apa ya.? saudara kak hadi yang datang dari jauh sekali” “pasti bakalan seru kalau melakukan petualangan dengan dia”.

Menantang Berpetualang

by pexels.com

Pagi-pagi sekali aku sudah mandi dan menggunakan pakaian lapangan, karena kebetulan saat itu sedang libur dua hari, tentu tidak akan aku sia-siakan waktu libur hanya untuk tidur-tiduran di rumah,  aku mau pergi bermain dan tidak sabar mengajak bermain saudaranya kak hadi yang baru saja datang tadi malam.

Tidak sesuai ekspektasi, setelah bersemangat menemuinya, ternyata dia biasa saja, bisa berkomunikasi seperti anak-anak sini pada umumnya, yaitu menggunakan bahasa jawa. Sekarang aku baru sadar, ternyata dia hanya pernah tinggal di irian jaya, tapi bukan orang asli sana, suku aslinya adalah suku jawa, sama seperti kebanyakan orang yang tinggal di kampungku.

Tidak masalah menurutku, aku akan tetap mengajak main dia, bersama kak hadi tentunya, “Lamri, yuk kita main petualangan, disana kamu sering berpetualang kan..?” ternyata dia juga antusias “ayo ngga, siapa takut” dengan senyum mencurigakan dia menambahkan

“gimana kalau kita mencari buah rasa kacang tapi bukan kacang” kedengaran aneh memang, ada buah rasa kacang tapi bukan kacang, akupun langsung mengiyakan ajakan lamri bersama kak hadi sambil membalas senyum mencurigakannya.

Petualangan Mencari Buah Rasa Kacang

by pexels.com

Kami awali mencari disekitar kebun dekat rumah kami, di dekat kolam yang begitu besar namun kondisi kolamnya kering, kebetulan bulan ini adalah musim kemarau, “Lamri ada tidak buahnya disini.?” Setelah melihat sekitar “iya ada ngga, itu pohonnya” dia menunjuk arah utara dari tempat kami berdiri, aku dan kak hadi pun langsung menghampiri tempat yang ditunjuk olehnya.

Tidak asing memang melihat pohon yang dimaksud lamri, karena hampir di sekitar kebun desa kami ada tumbuhan ini “Lamri, maksudmu buah jarak..?” dengan senyum lebar dia menjawab “iya ngga, benar, rasanya enak loh, sama seperti kacang”.

Awalnya aku dan kak hadi sangat ragu, karena selama ini orang-orang di desa kami tidak pernah mengkonsumsi buah ini, namun kami memilih percaya kepada lamri, karena mungkin buah ini sudah sering dikonsumsi oleh orang-orang di daerahnya.

Tepat sekali, rasanya diluar dugaan kami, buah jarak yang dimaksud adalah bijinya memang rasanya persis sekali seperti kacang goreng, “lamri kamu benar, rasanya enak sekali, tapi kamu kenapa tidak ikut makan” lagi-lagi dia jawab dengan senyum yang lebar “tidak usah ngga, aku sudah sering makan”.

Tidak cukup menghabiskan buah jarak dalam satu pohon, kamipun mencari terus hingga dibeberapa kebun, karena tidak semua buah jarak rasanya seperti kacang, hanya yang sudah kering saja yang warnanya coklat hampir kehitaman, kalau yang masih segar atau yang warnanya kuning tidak bisa dimakan karena mengandung banyak getah, rasanya pahit.

Perut Mual Kepala Pusing

by pixabay.com

Setelah merasa cukup mencari buah jarak kamipun memutuskan untuk pulang, karena hari sudah siang, sinarnya sangat menyengat di kulit, selain itu lamri sore hari ternyata harus ke tempat saudaranya yang lain, karena keluarganya ke tempat kak hadi hanyalah temu kangen semata.

Setelah sampainya di rumah akupun langsung menuju kamar untuk tidur siang, karena cukup lelah mencari buah yang cukup jauh dengan kondisi matahari yang sangat terik, kipas angin ku hidupkan hingga yang paling kencang, supaya aku bisa tidur dengan nyenyak.

Tepat pukul 14:00 WIB aku terbangun, baru sadar ternyata aku belum shalat zhuhur, segeraku matikan kipas angin, “Bruk..” tiba-tiba aku tergeletak dibawah ranjang, entah kenapa kepala ini terasa sangat pusing sekali, bak dibenturkan ke tembok. Segera ku berteriak memanggil mama.

Setelah mamaku datang dan melihat kondisi anaknya yang tiba-tiba lemas, diapun ikut panik, segera dia mendudukanku di kursi ruang tamu, namun tak berapa lama aku duduk, perut rasanya seperti dikocok-kocok ribuan kali, “Huek..” segala makanan yang pernah dimakan pun keluar semua.

Ibuku khawatir, akupun segera dibawa ke praktek dokter terdekat, setelah dilakukan berbagai pemeriksaan dan pertanyaan, ternyata aku keracunan makanan, yang tidak salah lagi itu adalah karena buah jarak, kata dokter buah itu mengandung racun yang cukup berbahaya jika dikonsumsi.

Sekitar empat jenis pil dan satu sirup obat pun kami bawa ke rumah, dokter mengatakan aku harus banyak minum air dan jangan sampai telat meminum obat. Sesampainya di rumah, sambil menahan pusing dan mual yang tiada tara, aku merenung.

Kenapa saudaranya kak hadi jahat sekali ya, aku sebenarnya agak curiga karena dia tidak mau makan satupun biji jarak yang kita cari tadi, dengan alasan sudah sering makan di daerah asalnya.

Nasi sudah menjadi bubur. Toh sekarang anaknya sudah tidak ada disini lagi, tinggal sekarang aku berusaha menyembuhkan diri agar bisa beraktivitas seperti biasanya.

Kondisi kak hadi juga sama sepertiku, karena obat-obatnya cukup mahal mamaku memutuskan obatnya untuk diminum bersama, berharap sudah sembuh ketika obatnya sudah habis, karena pasti akan lebih cepat habis jika dikonsumsi berdua.

Alhamdulillah setelah dua hari mengkonsumsi obat dan banyak minum, kondisiku dan kak hadi mulai membaik, kamipun bisa beraktivitas seperti biasa, terkadang disela-sela aktivitas kami suka menggerutu prihal lamri, karena ternyata dia anak yang nakal dan jahat.

Fakta Tentang Buah Jarak

by pertanianku.com

Jarak atau yang memiliki nama ilmiah Ricinus communis adalah tumbuhan liar yang banyak tumbuh di berbagai tempat di indonesia, tumbuhan ini adalah jenis tumbuhan perdu yang mudah tumbuh diberbagai jenis tanah di indonesia.

Buah jarak dapat diambil minyaknya, minyak jarak biasanya dimanfaatkan untuk campuran pelumas, selain itu minyak jarak juga dapat dijadikan biodisel pengganti solar yang saat ini masih kebanyakan menggunakan minyak fosil.

Zat lainnya yang terdapat didalam jarak adalah ricin, zat ricin merupakan zat yang bersifat racun bagi tubuh kita, jika zat ini tertelan maka akan menyebabkan mual, muntah-muntah, pendarahan pada lambung dan usus.

Jika keracunan ricin ini dibiarkan maka bisa berlanjut pada gagal hati, limpa dan ginjal yang menyebabkan kematian seseorang karena rusaknya sistem peredaran darah.

Setelah mengetahui bahayanya zat ricin yang ada didalam buah jarak, jadi jangan coba-coba makan buah ini secara langsung ya.

Leave a Reply